Satu berkas catatan manusia melompong
Aku benci pada kotak minuman kopi yang kubeli kemarin dan hari ini. Bukan karena rasanya, tetapi karena isinya tak bisa kuhabiskan sampai tuntas. Bentuknya yang kotak namun bagian atasnya miring, lalu lubang minumnya tak menepel sampai tepi kotak, membuat isinya tak bisa kuhabiskan semua. Berusaha sebagaimanapun, sisa tetesannya tidak bisa kusesap. Betapa mubadzirnya. Betapa menyedihkannya karena hari ini tak ada hal yang lebih membanggakan selain bisa menyesap habis isi kotak itu.
Aku ingin terbang. Melihat iklan bank di tv dengan konsep manusia melayang membuatku berdecak kagum sambil merasa iri karena dengan mudahnya orang-orang terbang di iklan tv itu. Aku menginginkan sensasi hidup yang luar biasa. Haruskah aku menjadi astronot NASA? Hah betapa menyusahkannya. Menjalani hari-hari saja sudah cukup bagiku. Repot kalau sampai aku harus bersusah payah menjadi astronot karena mimpi itu tak akan sampai. Enaknya menjadi burung..
Padahal tak banyak yang kulakukan tapi entah mengapa hari ini dan hari-hari kemarin terasa melelahkan. Aku tak tahu penyebab pastinya. Makan sudah tersedia, ketika hawa panas aku hanya tinggal menekan tombol nyala pada remot pendingin udara. Uang masih bersisa meski tak banyak. Lalu apa yang membuat semua terasa melelahkan? Manusia, mungkin?Semua terasa membosankan. Gunjingan, tatapan tak sedap, ditinggalkan, meninggalkan, dan cobaan lainnya dalam kehidupan sehari-hari tak membuatku tersentak. Itu lumrah. Itulah kehidupan. Makan saat lapar, minum air secara membabi buta ketika kehausan dan kerongkongan terasa kering. Menjalankan profesinalisme saat bekerja (meskipun hasilnya terlihat pas-pas an tapi aku tetap mengusahakannya). Adakah yang lebih untuk membangunkan adrenalin? Tak ada. Aku menerima kasih dan mengasihi, tapi memang seharusnya seperti itu, kan? Karena aku (atau mungkin kamu) manusia.
Aku merasa kasihan pada selembar tisu dan teman-temannya. Setelah digunakan sampai kotor, mereka dibuang begitu saja. Padahal membuang tisu sama dengan menyia-nyiakan kayu. Hah betapa malangnya.
Hmmm, setelah ini, apalagi ya? Apa yang harus aku kagumi lagi? Seperti sudah tahu segalanya, padahal sebetulnya tak tahu apa-apa dan tak melakukan apa-apa. Terget kecil sampai tak terlihat, apalagi target yang sebesar gajah? Atau mungkin karena terlalu besar, lebih besar dari gajah dan bumi bulat, sampai betul-betul tak terlihat. Target macam apa itu. Berusaha membuatnya ada padahal tak ada sama sekali. Terlalu absurd, bukan?

Komentar
Posting Komentar