Mimpi yang tertunda
Seperti yang kita ketahui, dunia ini sedang tidak baik-baik saja, lebih tidak baik-baik dari zaman dahulu. Dunia ini memang tercipta saling taut-bertaut, tidak mungkin ada kebaikan jika tidak adanya kejahatan. Gak akan ada mc op kalo gak ada villain 🙃
Aku sudah terbiasa hidup dengan gaya medioker, gak neko-neko, asal kebutuhan dasar terpenuhi. Sudah dihantam banyak kenyataan yang gak sesuai sama mimpi, aku masih punya secercah harapan sederhana yang aku jadikan mimpi : memiliki kenyamanan sederhana, punya rumah sederhana untuk pulang, punya mobil sederhana biar gak kepanasan, punya motor untuk meningkatkan efisiensi, dan tua pengen tinggal di panti jompo nyaman biar tua gak nyusahin. Bahkan aku adalah orang yang malas berolahraga, sehingga aku berusaha menjaga pola makan agar setidaknya ketika sudah tua aku hanya mempersulit dokter/suster. Jangan sampai keluargaku kelak kesusahan dan mengorbankan banyak hal untuk mengurusi aku yang akan menjadi nenek-nenek kelak.
Kenyamanan sederhanaku yang ingin makhluk hidup memiliki hal yang layak atas hidupnya dan mimpi sederhanaku yang lain sepertinya akan tertunda sampai ajal menjemput, melihat negara tempat aku tinggal tidak memberikan keamanan dan kenyamanan BARE MINIMUM. Aku tahu kenapa aku begitu overwhelmed terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia hari ini. Harapan dan mimpiku yang terakhir, besar kemungkinan sulit terwujud di keadaan yang seperti sekarang. Manusia sebagai individu saja sudah banyak diterpa masalah eksistensial dll, ditambah tanah tempat aku berpijak seakan retak, kering kerontang, dan rapuh. Untuk membangun pondasi rumah saja sudah berbahaya. Sangat membuat frustasi dan ingin pindah planet.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah standarku terlalu tinggi atau negara ini yang rendahan? Ternyata, memang negara ini yang hina.
Aku tidak terlalu menyalahkan diriku sendiri. Aku sudah berusaha semampuku. Berusaha melawan inferioritasku, berusaha melawan ketidakadilan, berusaha tetap bersuara meskipun hanya suara rintihan yang tercekik, tak lantang namun terdengar.
Aku merasa bahwa mungkin sebetulnya mimpiku tidak sesederhana itu. Aku sangat kagum kepada para aktivis dan kawan-kawan serta ahli-ahli intelektual yang masih bersuara secara konsisten dan pantang menyerah. Ketangguhan kalian seperti dinding yang tak akan pernah retak atau berkarat, sudah anti gempa, ditambah desain estetik membuat aku semakin terpukau. Mungkin aku mudah overwhelmed karena aku awam dan bukan siapa-siapa, tapi aku tidak akan berhenti bersuara sampai semua makhluk hidup mendapatkan haknya dan kembali pada hakikatnya.
Aku hanya secuil bakteri di bumi yang hanya bisa menyalakan survival-mode ketika dirasa genting (meskipun terkadang i wanna give up), tapi aku akan tetap berusaha ikhlaskan dan sait it louder when needs. Thank you.

Komentar
Posting Komentar