Anak 'Badung'
Mungkin menurut kalian anak badung itu udah pasti, anak nakal yang ga punya aturan dan ga tau malu. Hmmm.. Mungkin itu menurut kalian. Tapi kata saya, dengan nakalnya mereka itu mereka ngga nambah nambah dosa. Hah? Maksud?
Siapa antonimnya dari anak badung? Pasti anak baik yang nurut sama peraturan dan yang pastinya mereka jarang dihukum karena melanggar peraturan daripada anak badung yang kayanya sering buanget dihukum. Tapi kalian pernah nyelidikin ga anak itu bener bener baik atau ngga?
Saya punya cerita. Disatu sekolah menengah pertama ada satu kelompok yang paling disegani di sekolahnya karena kenakalan mereka. Mereka masih kelas 8. Yah. Mereka suka main atau jalan jalan sama temen laki laki mereka dengan motor yang mereka punya yang dikasih ma orang tuanya dan pulang maksimal sampai adzan maghrib, mereka suka keluar kelas tanpa izin ke keamanan atau sekretaris kelas karena memang guru mereka lagi bolos alias ngga ngajar, dan itu sebabnya mereka keluar karena pusing dan stress dengan keadaan kelas yang berisik dan sumpek karena ngga ada pengawasan dari guru, dan mereka suka pacaran. Kadang kelompok itu suka berantem cuma gara gara cowo. Tapi masalah itu yang bikin persahabatan mereka makin erat. Pacaran mereka ngga berlebihan. Hanya sekadar smsan, teleponan, atau ngobrol. Dan kelompok itu udah nganggep salah satu dari mereka itu udah termasuk nakal kalau udah boncengan sama pacarnya. Dan resikonya? Mereka dicap anak ga bener sama warga sekitar. Lain halnya sama temen sekelas mereka yang jadi pengurus kelas (jadi bendahara kelas, keamanan kelas, dll). Mereka adalah kelompok 'baik' (yah meskipun bukan paling baik) dari kelas 8 juga. Kelompok mereka sholeh, pinter, sopan, dan menurut warga sekitar mereka baik. Kelompok nakal itu sering mendengar warga sekitar bergosip tentang mereka secara berlebihan. Tentu saja bergosip tentang hal yang negatif. Mereka ngga terima. Belum lagi mereka jengkel terhadap pengurus kelas yang selalu mencatat bahwa mereka sering keluar kelas tanpa izin dan catatan itu diberi kepada wali kelas. Jelas pandangan mereka (kelompok nakal itu) sudah buruk dimata wali kelas mereka. Kelompok nakal itu pun dipanggil oleh wali kelas. Dan dimarahi abis abisan. Mereka mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa mereka sering keluar kelas tanpa izin karena guru yang seharusnya mengajar malah bolos. Apa daya. Mereka tetap dipandang buruk.
Disitu kelompok nakal sadar. Apa yang mereka lakukan salah. Maka mereka mencoba merubah sikap mereka yang tadinya tidak izin keluar kelas, sekarang mereka selalu izin. Tapi mereka belum bisa merubah sikap pacaran dan suka mainnya mereka. Setelah beberapa minggu kemudian, kelompok nakal itu dipanggil kembali oleh sang wali kelas. Mereka dimarahi lagi. Dan ditanya "Kenapa kalian masih tetep keluar kelas tanpa izin? Ibu kan sudah memperingati kalian," kata si guru. Hah? Keluar tanpa izin? Perasaan setelah dimarahi itu, mereka selalu izin ke pengurus kelas dan malahan sekretaris kelas saat kita izin keluar pernah mengikuti mereka keluar kelas kurang lebih 5 kali keluar kelas. Mereka pun membela diri. "Bu perasaan kita udah izin. Tapi kenapa dicatet ga izin? ". Kata bu guru "Itu karena kalian izinnya terlaku lama. Makannya kalian dialpain. Kalian suka telat upacara,lagi". Disitu mereka kesal. Marah. Kalau memang iya mereka selalu izin terlalu lama, lantas mengapa pengurus kelas tidak memperingati mereka? Kenapa malah selalu mengizinkan mereka keluar kelas? Dan untuk upacara. Padahal, pengurus kelas itu juga selalu telat. Kami pun membela diri. Tentu saja. Siapa terima kalau mereka dipandang nakal padahal pengurus kelas pun tidak jauh nakal seperti mereka? Dasar memang keras kepala. Si guru tetap saja bersikeras. "Kan kalau pengurus kelas suka izin kalau mereka telat upacara". Izin telat upacara? Darimana kalau mereka tau ada perizinan untuk telat upacara? Kalau tau begitu juga mereka akan izin kalau mereka telat. Maka kelompok nakal itu pun dihukum mebersihkan kelas dan sekitar kelas. Jadi mereka piket 2 kali pada minggu itu.
Mereka, kelompok nakal itu semakin kesal ketika melihat salah satu pengurus kelas sedang berduaan di warung bersama, tentu saja bersama pacarnya yang satu kelas dengan mereka. Belum lagi mereka mendengar pengurus kelas atau kelompok baik itu sedang membicarakan orang lain atau bergosip seperti warga sekitar. Padahal kan bergosip itu dosa. Belum lagi pengurus kelas itu selalu menyindir teman sekelas mereka yang cantik yang dirasa mengganggu pacar dari salah satu teman mereka dari kelompok baik itu. Tidakkah mereka malu dengan perbuatan mereka? Kelompok baik itu MUNAFIK! Ingin kelompok nakal itu mengadukannya pada wali kelas. Tapi apa daya mereka sudah dipandang buruk dan akan disangka berbohong jika tanpa bukti. Dan dari situlah kelompok nakal sadar bahwa mereka NAKAL karena JUJUR bukan BAIK karena MUNAFIK. Kalian tau kan apa balesan orang munafik? Yaitu neraka.
Jadi intinya, menurut saya NAKAL ITU LEBIH BAIK, KARENA JUJUR DARIPADA BAIK TAPI MUNAFIK. Mungkin ada orang yang benar benar baik alias tidak munafik. Tapi siapa yang tau kalau jaman sekarang banyak orang baik, tapi munafik. Mungkin segitu aja pendapat dari saya. Kalau ada pendapat lain, mohon dilontarkan^^ dan jika ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, mohon beri alasannya. Kamsahamnida :))
Siapa antonimnya dari anak badung? Pasti anak baik yang nurut sama peraturan dan yang pastinya mereka jarang dihukum karena melanggar peraturan daripada anak badung yang kayanya sering buanget dihukum. Tapi kalian pernah nyelidikin ga anak itu bener bener baik atau ngga?
Saya punya cerita. Disatu sekolah menengah pertama ada satu kelompok yang paling disegani di sekolahnya karena kenakalan mereka. Mereka masih kelas 8. Yah. Mereka suka main atau jalan jalan sama temen laki laki mereka dengan motor yang mereka punya yang dikasih ma orang tuanya dan pulang maksimal sampai adzan maghrib, mereka suka keluar kelas tanpa izin ke keamanan atau sekretaris kelas karena memang guru mereka lagi bolos alias ngga ngajar, dan itu sebabnya mereka keluar karena pusing dan stress dengan keadaan kelas yang berisik dan sumpek karena ngga ada pengawasan dari guru, dan mereka suka pacaran. Kadang kelompok itu suka berantem cuma gara gara cowo. Tapi masalah itu yang bikin persahabatan mereka makin erat. Pacaran mereka ngga berlebihan. Hanya sekadar smsan, teleponan, atau ngobrol. Dan kelompok itu udah nganggep salah satu dari mereka itu udah termasuk nakal kalau udah boncengan sama pacarnya. Dan resikonya? Mereka dicap anak ga bener sama warga sekitar. Lain halnya sama temen sekelas mereka yang jadi pengurus kelas (jadi bendahara kelas, keamanan kelas, dll). Mereka adalah kelompok 'baik' (yah meskipun bukan paling baik) dari kelas 8 juga. Kelompok mereka sholeh, pinter, sopan, dan menurut warga sekitar mereka baik. Kelompok nakal itu sering mendengar warga sekitar bergosip tentang mereka secara berlebihan. Tentu saja bergosip tentang hal yang negatif. Mereka ngga terima. Belum lagi mereka jengkel terhadap pengurus kelas yang selalu mencatat bahwa mereka sering keluar kelas tanpa izin dan catatan itu diberi kepada wali kelas. Jelas pandangan mereka (kelompok nakal itu) sudah buruk dimata wali kelas mereka. Kelompok nakal itu pun dipanggil oleh wali kelas. Dan dimarahi abis abisan. Mereka mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa mereka sering keluar kelas tanpa izin karena guru yang seharusnya mengajar malah bolos. Apa daya. Mereka tetap dipandang buruk.
Disitu kelompok nakal sadar. Apa yang mereka lakukan salah. Maka mereka mencoba merubah sikap mereka yang tadinya tidak izin keluar kelas, sekarang mereka selalu izin. Tapi mereka belum bisa merubah sikap pacaran dan suka mainnya mereka. Setelah beberapa minggu kemudian, kelompok nakal itu dipanggil kembali oleh sang wali kelas. Mereka dimarahi lagi. Dan ditanya "Kenapa kalian masih tetep keluar kelas tanpa izin? Ibu kan sudah memperingati kalian," kata si guru. Hah? Keluar tanpa izin? Perasaan setelah dimarahi itu, mereka selalu izin ke pengurus kelas dan malahan sekretaris kelas saat kita izin keluar pernah mengikuti mereka keluar kelas kurang lebih 5 kali keluar kelas. Mereka pun membela diri. "Bu perasaan kita udah izin. Tapi kenapa dicatet ga izin? ". Kata bu guru "Itu karena kalian izinnya terlaku lama. Makannya kalian dialpain. Kalian suka telat upacara,lagi". Disitu mereka kesal. Marah. Kalau memang iya mereka selalu izin terlalu lama, lantas mengapa pengurus kelas tidak memperingati mereka? Kenapa malah selalu mengizinkan mereka keluar kelas? Dan untuk upacara. Padahal, pengurus kelas itu juga selalu telat. Kami pun membela diri. Tentu saja. Siapa terima kalau mereka dipandang nakal padahal pengurus kelas pun tidak jauh nakal seperti mereka? Dasar memang keras kepala. Si guru tetap saja bersikeras. "Kan kalau pengurus kelas suka izin kalau mereka telat upacara". Izin telat upacara? Darimana kalau mereka tau ada perizinan untuk telat upacara? Kalau tau begitu juga mereka akan izin kalau mereka telat. Maka kelompok nakal itu pun dihukum mebersihkan kelas dan sekitar kelas. Jadi mereka piket 2 kali pada minggu itu.
Mereka, kelompok nakal itu semakin kesal ketika melihat salah satu pengurus kelas sedang berduaan di warung bersama, tentu saja bersama pacarnya yang satu kelas dengan mereka. Belum lagi mereka mendengar pengurus kelas atau kelompok baik itu sedang membicarakan orang lain atau bergosip seperti warga sekitar. Padahal kan bergosip itu dosa. Belum lagi pengurus kelas itu selalu menyindir teman sekelas mereka yang cantik yang dirasa mengganggu pacar dari salah satu teman mereka dari kelompok baik itu. Tidakkah mereka malu dengan perbuatan mereka? Kelompok baik itu MUNAFIK! Ingin kelompok nakal itu mengadukannya pada wali kelas. Tapi apa daya mereka sudah dipandang buruk dan akan disangka berbohong jika tanpa bukti. Dan dari situlah kelompok nakal sadar bahwa mereka NAKAL karena JUJUR bukan BAIK karena MUNAFIK. Kalian tau kan apa balesan orang munafik? Yaitu neraka.
Jadi intinya, menurut saya NAKAL ITU LEBIH BAIK, KARENA JUJUR DARIPADA BAIK TAPI MUNAFIK. Mungkin ada orang yang benar benar baik alias tidak munafik. Tapi siapa yang tau kalau jaman sekarang banyak orang baik, tapi munafik. Mungkin segitu aja pendapat dari saya. Kalau ada pendapat lain, mohon dilontarkan^^ dan jika ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, mohon beri alasannya. Kamsahamnida :))
Komentar
Posting Komentar