Terbang ke Surabaya
Berseluncur di media sosial sudah menjadi hal yang pokok di era industri 4.0 ini. Keadaan dalam kota, luar kota, ulasan musik lokal sampai BTS, ulasan film, berita olahraga, berita terorisme, berita bencana alam, ilmu pengetahuan, berita politikus yang selalu membuat saya tertawa sekaligus sedih, marah, dan kecewa, serta berita hoax, receh dan julid pun berseliweran di dunia media sosial apa pun. Semua hal ada di sana. Sepertinya kita tidak butuh pesawat lagi untuk mengunjungi suatu negara atau suatu daerah.
Adakalanya informasi-informasi dari media sosial membuat kita semakin merasa runyam, padahal kehidupan kita saja sudah malang, membuat kita semakin pusing dengan melajunya era dan globalisasi, tapi tak dapat dipungkiri bahwa informasi-informasi itu juga dapat membuka mata dan batin, memperluas wawasan dan memperbaiki cara berpikir kita. Tak semua hal negatif terdapat di sosial media jikalau kita dapat menyaring dan mengolah asupan yang masuk ke otak kita. Jika dirasa bising maka bisa dihentikan terlebih dahulu penggunaan media sosial, atau anda dapat memilah dan memilih kembali informasi apa yang ingin anda dapatkan.
Ketika saya sedang berselancar di twitter, saya menemukan ulasan musik Silampukau di salah satu akun media yang membahas isu-isu sosial sampai budaya. Tiba-tiba saya seperti di bawa ke masa saat saya sedang sering-seringnya mendengarkan lagu Silampukau saat kuliah semester dua atau tiga, ya. Saya lupa. Kalau anda tiba-tiba merasakan hal seperti yang saya rasakan, yaitu terbawa kembali ke masa yang sudah lalu, berarti anda sedang dalam mode nostalgia, salah satu mode kehidupan yang menandakan bahwa anda masih hidup.
Semester dua atau tiga adalah fase kehidupan di mana kemalangan musim ke sekian kalinya dalam hidup saya di mulai. Lagu-lagu Silampukau lah yang membuat saya menari diantara kemalangan hahaha. Yang paling sering didengar adalah 'Puan Kelana', 'Doa 1', dan 'Balada Harian'. Saya dipaksa menari dengan alunan gitarnya, dan akhirnya menikmati malangnya kehidupan saya haha. Kembali saya mendengarkan seluruh lagu Silampukau, dan semakin terasa nyambung sama hidup saya hahaha. Dan nilai tambahannya, saya seperti di bawa ke hiburan murah di taman di Surabaya, hiruk pikuk dan kerasnya Kota Surabaya yang berhawa panas, tidak seperti tempat tinggal saya yang berhawa sejuk meskipun terkadang panas juga. Remang-remang dari Gang Dolli yang terkenal dalam malam sampai Ahmad Yani yang beringas. Dolli yang tak hanya menjadi aib dan kenistaan, tapi juga menjadi pelipur lara yang ditunggu-tunggu untuk membuat utuh seorang laki-laki, menjeda sejenak kehidupan yang keras dan menyedihkan. Tidak semua adalah tunasusila. Kehidupan yang memaksa mereka dan ketidaktahuan adalah keniscayaan. Tuhan, berkah dan capaian kehidupan yang lebih baik untuk telembuk-telembuk sudut kota. Dan semoga saya diberi kesempatan untuk dapat jalan-jalan sungguhan ke Kota Surabaya. Hehe.

Komentar
Posting Komentar