Aku, tumbalmu



Sesak
Terhimpit pembangunan
Tertindih beratnya kehidupan
Kami yang menanam tapi para bejat yang menuai
Tempatku berpijak beralas batu tajam
Di situ jalan pintas
Tapi ujungnya jurang kehancuran
Menilik dinasti,
aku hanya tertawa meringis
Aku hanya punya sedikit makna
Semakin terkikis dimakan rezim
Melankolis dibuatnya
Apa aku tak layak mencapai kesederhanaan yang tak muluk-muluk?
Nuraniku menangis tersendat
Mengikuti naluri manusia bertahan hidup
Para bejat, kau andil besar dalam hal ini!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimpi yang tertunda

Skincare low budget (untuk kulit berjerawat)

Satu berkas catatan manusia melompong